Penjelasan Tugas Makalah dan Presentasi

October 1, 2014 § Leave a comment

Untuk mengunduh Penjelasan Tugas Makalah dan Presentasi Klik di sini atau di sini

Kisi-kisi Ulangan Harian Kelas XI MIA 1

September 26, 2014 § Leave a comment

Untuk mendowload Kisi-kisi Ulangan Harian XI MIA 1 –> Klik di sini atau di sini

Di Batas Negeri

January 17, 2013 § Leave a comment

Senja telah hilang, gelap pun mulai menyapa bimbang. Ditemani belaian angin yang dingin, aku duduk di sudut ruang bersama segelas air. Bercanda dengan kepulan asap rokok, juga bercengkrama dengan jemari yang riang berdansa di atas papan ketik. Aku masih di sini, seperti dua bulan lalu ketika pertama kali udara kupang menyapaku ramah.

Di batas negeri ini pula aku akan mengenal Indonesia. Setidaknya itu adalah harapanku. Banyak orang bertanya kenapa aku pergi merantau. “Ngapain ke kupang? Jauh-jauh,” begitu kata mereka. Bagiku, pengalaman lebih mahal dari apapun. Pengalaman tak akan terganti oleh apapun. Sama halnya dengan waktu yang sedetik lalu telah hilang, pengalaman sangatlah berharga. Lewat pengalaman orang bisa belajar agar tidak terjatuh untuk yang kedua kalinya.

SM3T, program salah satu pemerintah itulah yang telah membawaku ke pulau Timor. Tanah yang juga aku gambarkan dalam sebuah penelitian ilmiah. Aku mengenal tanah ini lewat buku-buku yang aku kumpulkan, aku kritik, aku tafsirkan lalu aku tulis dalam sebuah karya sejarah. Sedikitpun tak pernah aku membayangkan, kini aku di sini, di pulau ini, pulau yang terpaksa harus dibagi menjadi dua negara.

Biar sudah, itu urusan pemerintah. Urusanku adalah satu, mendidik anak bangsa di batas negeri ini. « Read the rest of this entry »

Pesawat di Ladang Pak Husen

July 25, 2012 § Leave a comment

Kali ini saya kembali melakukan tugas mulia, mengantarkan seorang bidadari menuju tempat peraduannya. Yah, bukan kewajiban sih, tapi sebagai lelaki jantan sudah sepatutnya ia memberikan segenap perhatian pada belahan jiwanya, haha *maksa.

Sudah ditakdirkan mungkin ya bro, di stasiun Ciroyom saya terjebak macet. Padahal sejak pertama tugas ini saya jalankan, belum pernah sekalipun dihadang kondisi ini. Sial memang, tapi tak apa. Ambil hikmahnya saja. Saya bisa lebih lama berbincang dengan gadis di belakang saya. Haha halig. Dunia asa milik duaan pokokna mah.

Ibarat jatuh di lubang yang sama, kondisi itu juga saya alami sepulang dari pendaratan motor saya di gank rumahnya, (maklum belum dapet SIP alias Surat Ijin Pacaran dari ortunya. Nasib, nasib..). padahal saya sudah mencoba menghindar dari jalan itu. Saya mencari jalan baru, jalan yang belum saya lewati sama sekali.

Kemudi motor saya arahkan lurus melewati rajawali timur, terus lurus lalu belok kiri. Saya coba ambil kiri karena di depan saya mobil angkutan umum kota (angkot) Ciroyom-Caheum lewat kanan. Saya pikir mobil itu akan melewati jalan yang lebih jauh, Kebon Jati, tapi ternyata saya salah, damn. Akhirnya saya terjebak kembali.

Pucuk dicinta ulam pun tiba, lirikan saya ke sebalah kiri membuka celah daya jelajah (cie,bahasane tong). Kali ini saya melihat ada ruas jalan kosong di samping kiri, jalan menuju kompleks suatu komplek perumahan militer (saya tak tahu tepatnya, first time soalnya,hehe). Si buhun, panggilan motor ane, akhirnya diarahkan menuju komplek itu. beberapa saat kemudian,barulah saya menyadari bahwa jalan yang saya lalui ini adalah jalan menuju Landasan Udara Husein Satranegera.

***

Jalan ini sudah mentok. Tinggal tersisa dua pilihan, kanan atau kiri. Saya pun memutuskan untuk mengambil arah kanan, karena kiri berarti masuk Lanud sedang tujuan saya adalah ciwaruga, kosan tempat kawan saya berdiam. Saya berkendara agak melambat agar dapat lebih menikmati suatu kompleks perumahan yang baru pertama kali saya singgahi ini.

Detik pertama saya coba tengok kanan, terus kanan. Di sebelah kanan saya berjejer bangunan-bangunan yang memang tak terlihat mahal. Namun bagi mata saya bangunannya enak dipandang. Betapa tidak, meski sederhana tapi begitu bersih. Catnya putih dan tetumbuhan pun berjejer di tepi halaman rumah. Layaknya pagar yang ditancapkan dengan sengaja, namun natural.

Otak saya kemudian berkata, “cukup ganteng, kasian kau terus gunakan sisi kananmu. Sekarang pindahlah, beri kesempatan bagi sisi kirimu untuk melihat keindahan yang lain,” begitu kira-kira sang otak bicara. Saya tak bisa mengelak.  Sebagai pusat koordinasi seluruh tubuh saya, bapak otak ini punya intruksi kuat yang tak bisa diganggu gugat. Mata saya pun akhirnya berujar, “siap komandan, laksanakan!”

Bangunan-bangunan tua kini ada dalam pengelihatan saya, “menakjubkan” saya bergumam. Bukan kagum, namun merasa bahwa sebagian rasa hormat terhadap bangsa ini telah hilang ditelan mata saya.

Saya tak percaya, bangunan yang pada tahun 1980 sampai 1990an menjadi primadona proyek pesawat pemerintah ini begitu kosong. Atapnya yang didominasi oleh flapon-flapon, telah bolong. Pun dengan catnya, sudah sangat lusuh. Termakan hujan, termakan sinar mentari atau simpulnya termakan usia. Saya tak sempat memotretnya, namun dalam gambaran benak saya, Potret bangunan ini seperti bangunan yang ditinggalkan pasca perang, lusuh tak berpenghuni.

Sekarang penghuninya mungkin bukan lagi dari dunia ini, tapi dari dunia lain. Makhluk astral, (lagak paranormal, he), biasanya sangat suka berdiam di tempat seperti ini. Rasakan saja auranya menusuk tubuh anda. Heuh, merindang, haha

Ini membuat saya merenung sepenjang jalan komplek ini, “kenapa kok bisa di tempat yang sama, dalam Lanud komersil yang begitu indah dan bagus, masih ada bangunan semacam ini?” seperti inikah negeri ini memperlakukan tempat yang pernah menjadi kebanggaannya. Anggap saja ini ironi, di tengah tuntutan pemerintah yang keukeuh kumekeuh pengen membeli pesawat pribadi presiden senilai triliunan rupiah, ternyata masih ada lanud-lanud yang belum terawat dengan rapi. Mungkin sebagian bahkan sudah lapuk,ckck

Sudahlah, tak perlu mikirin pemerintah yang lalim. Buang waktu. Dan saya masih melakukan perjalanan menuju tempat peraduan sementara. Beberapa saat kemudian, saya terhenjak oleh suatu momen sederhana, ada pesawat yang akan tinggal landas. Awalnya memang biasa saja sih, toh naik pun sudah pernah,hehe.

Tapi, kalau mau jujur, lihat take off secara langsung memang belum pernah lihat. Oleh karena itu, sambil berkendara saya terus pandang pesawat itu. agak lama, mungkin sedang pemanasan alias warming up. Saking terlalu lama, akhirnya saya memutuskan. “Ok, ok, sepertinya batal. Nanti sajalah, toh masih ada kesempatan” begitu pikir saya.

Ternyata saya akhirnya harus meralat pikiran itu. di depan saya, Di pinggiran jalan ternyata telah berjejer pengendara lain yang ingin menyaksikan moment itu. saya mencoba menghitung, ada sekitar 20an sepeda motor yang sambung menyambung di tepian jalan. Beberapa ada yang membawa anaknya. Mereka mengangkat anaknya untuk melihat pesawat secara langsung. Sesekali cengkrama antara ayah, ibu dan anak itu membuat saya sedikit tersenyum.

Ada juga yang hanya lewat, bagi mereka itu, pesawat semacam ini memang tak aneh. Toh di televisi pun sudah banyak. Atau sepertinya mereka tak pernah berfikir sama sekali, takut untuk membayangkan bagaimana seandainya mereka ada di dalamnya. Bukan takut karena maraknya pemberitaan kecelakaan mode transportasi ini, tapi benda ini mungkin tak akan mungkin pernah mereka naiki.

Saya masih tertuju pada orang-orang yang sedang berada di tepi jalan ini. Tiga sampai lima menit mereka berhenti sejenak, menantikan pesawat di depan mereka terbang entah kemana. Suara mesin pesawat tiba-tiba bergemuruh keras. Tanda pesawat ini akan segera meluncur cepat. Di depan dan balakang saya, orang-orang ini masih begitu menikmati momen ini.

Benar saja, pesawat ini akhirnya tancap gas dan tinggal landas. Meninggalkan kami yang senantiasa menunggunya lepas. Sesaat kemudian akhirnya mereka satu per satu melanjutkan perjalanannya seraya tersenyum bahkan ada yang terbahak.

Ok, sampai jumpa wat. Sampai jumpa esok hari. Orang-orang semacam ini mungkin akan kembali, menyaksikanmu sebagai angan dan mimpi.

Sirna

February 22, 2012 § 8 Comments

Televisi itu masih menyala saja saat saya terjaga dari tidur nyenyak. Dengan mengumpulkan segenap nyawa yang telah melanglang buana ke seantero jagat, saya mencari handphone kesayangan saya (gak bisa beli yang baru jadi anggap saja kesayangan).

Ternyata HP itu ada di dekat kepala saya.Tidak ada SMS masuk. Tidak pula missed call tertera di layarnya. Akhirnya saya simpan kembali elektronik kotak itu.

Pikiran tiba-tiba mencari alasan kenapa TV di depan saya masih menyala. Saya mencari segala fakta di lapangan (tempat saya tidur). Ternyata, di kosan 2×3 meter itu saya tidak tidur sendirian. Ada 3 orang teman saya yang juga tertidur menghadap TV. Fakta lain saya temukan saya tak berselimut (edan, selimut yang menempel di tubuh saya telah dicuri oleh kawan saya). Pantaslah semalam saya menggigil kedinginan.

Fakta lainnya saya ketahui setelah beberapa menit kemudian di salah satu stasiun TV muncul berita tentang sepak bola. Beritanya berisi kegagalan Los Blancos (Real Madrid) untuk meraih hasil maksimal atas CSKA Moscva. Laga itu berakhir dengan skor 1-1. Juga dengan Chelsea yang kalah di Stadion San Paolo, Naples, kandang Napoli. Ceritanya, di stadion tersebutlah Chelsea mesti tertunduk malu, alias kalah dari tim kuda hitam itu dengan skor 3-1.

Saat menyimak berita liga champion eropa itu, ada sesuatu yang mengganggu pikiran saya. Apalagi ketika melihat bungkus rokok yang berserakan, gelas-gelas yang hanya berisi ampas kopi, juga asbak yang sesak dengan punting rokok.

Saya mulai menemukan ingatan bahwa sebelum berniat nonton LCE saya membeli satu bungkus rokok dan 1 sachet kopi instan. Sialnya, saya telah ketiduran sebelum rokok saya nyalakan. Juga dengan kopi yang tak sempat saya hidangkan.

Celakanya, satu bungkus rokok yang saya beli tadi malam itu ada di antara sederetan bungkus rokok yang berserakan. Kopi yang kusimpan di samping TV pun hanya tinggal bungkusnya saja.

Saya mulai menyadari, rokok itu hanya tinggal puntung saja dan sudah tertinggal di paru-paru kawan-kawan saya. Pun dengan kopi, yang mungkin sudah tinggal enak di perut orang-orang yang sedang membangkai ini. Rokok dan kopi itu telah sirna kertaning bumi. Selamat tinggal rokok dan kopiku, semoga bahagia selalu menyertaimu.

Lindungilah rokok dan kopi anda sebelum anda tidur.

Cerita Tentang Ayah

February 20, 2012 § 5 Comments

Pria itu masih saja mengepulkan asap dari mulutnya di sudut rumah. Sesekali menghela nafas. Tampak segala keluh kesah terpusat di wajahnya. Mungkin dia memang sedang mengalami banyak masalah. Tapi selama ini dia tetap bertahan. Bukan satu dua tahun, tapi bertahun-tahun.

Setiap hari dia bekerja begitu keras. Anak-anaknya sudah semakin besar. Menambah beban hidup yang besar pula. Apalagi anaknya sedang kuliah di salah satu universitas negeri di Bandung. Dan itu tentu butuh biaya yang tak sedikit.

Jam 5 pagi dia bangun, menyiapkan segala perlengkapan untuk mencari uang. Jam 10 dia berangkat dengan harapan ada secercah cahaya berbentuk kertas dapat diraihnya. Bukan untuk apa, tapi untuk anaknya. Pencarian berakhir ketika jam menunjuk angka dua, bukan siang tapi pagi. Praktis hanya 3 jam saja di tertidur. Setiap hari itulah yang dilakukan ayah untuk anaknya.

Dia tak pernah berbicara tentang masalahnya kepada anaknya. Setidaknya selama 19 tahun ini. ”Nak, jadilah orang sukses. Orang seperti ayahmu ini selalu merasa kecil saat penolakan datang. Terutama saat anaknya gagal menikah gara-gara kecilnya diri ini,” tutur ayah tiba-tiba menasihati.

Sang anak mengamini dan berharap melakukan yang terbaik untuk pengorbanan sang ayah. “Ayahku yang lugu. Aku akan berusaha semampuku, menjadi seseorang yang kau mau. Aku janji kerja kerasmu selama ini tak akan sia-sia,” gumam sang anak.

“Suatu hari aku akan berkata. Tidurlah yah. Istirahatlah. Biar keringatmu selama ini kugantikan. Sdah cukup pengorbananmu selama ini. kini adalah giliranku. Mengurusmu adalah kewajibanku. Seperti yang telah kau lakukan saat aku terlahir dengan tangis, di pangkuanmu,” pungkas anak dalam hati.

Kesungguhan

February 10, 2012 § 4 Comments

Seseorang bernama Jabeer pernah berkata, “menulislah walau hanya sedikit, karena menulis adalah soal kebiasaan.”

Perkataan Jabeer itu mengingatkan saya pada pernyataan mbah Pram. Kira-kira begini, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.” Untuk itu, saya memulai untuk menulis kembali. Tentang apapun. Tentang siapapun. Saya tak ingin disebut sebagai orang yang hilang dari kehidupan. Atau kehidupan yang tak mengakui keberadaan saya.

Saya ingin bicara tentang “Kesungguhan.” Dulu, ketika saya belajar di suatu pengajian dekat rumah, seorang guru pernah bercerita tentang Pulan (nama anonim dalam bahasa Arab) yang ingin mendapatkan mutiara. Si pulan, kata guruku, hanya hafal sebuah hadits, man tholaba syaian jiddan fa wajadahu (siapapun yang bersungguh-sungguh, pasti akan mendapatkan hasil). Hadits itu jadi satu-satunya pegangan hidup si pulan.

Pulan selalu berdoa agar tuhan memberikan sebuah mutiara padanya. Entah untuk apa, guru itu tak menceritakan. Yang jelas, si Pulan akhirnya sadar bahwa dia tak cukup hanya berdoa dan berharap tuhan memberikan mutiara begitu saja padanya.

Akhirnya, si pulan punya ide gila (setidaknya menurut saya saat ini). Dia kan datang ke pantai dan menguras air laut sampai laut kering sehingga dia dapat mengambil mutiara dengan mudah. Di suatu pagi, Pulan datang ke pantai dengan membawa sebuah gayung. Lalu memulai usahanya dengan mngayuh gayung untuk menguras air laut. Di sela-sela kayuhan pulan, pulan terus membacakan hadits yang ia hafal itu.

man tholaba syaian jiddan fa wajadahu. lalu mengayuh. man tholaba syaian jiddan fa wajadahu. Lalu mengayuh. man tholaba syaian jiddan fa wajadahu. Lalu mengayuh. Begitulah seterusnya.

Ceritanya, kelakuan si pulan itu ternyata mengguncang seantero penduduk laut. Para penunggu laut kemudian mendatangi Pulan seraya berkata “hai, Pulan, what are you doing?” begitu kira-kira kalau diinggriskan.

“Saya tidak mau apa-apa, saya hanya ingin mutiara.”
“Oh Cuma itu?”
“Iya,” ucap pulan dengan wajah sedih
Waduh gitu aja kok repot, ntar saya kasih. Tapi berhenti ya?
Ok siap.

Akhirnya jang Pulan pun mendapatkan mutiara yang dia inginkan. Setiap kesungguhan pasti menuai hasil. Sekecil apapun. Sejelek apapun. Dan selalu ada keberuntungan. Kesungguhan dan keberuntungan adalah seiring dan sejalan. Anda mau beruntung? Marilah berusaha dulu.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.